Minggu, 20 Mei 2012

Goresan Toga Diawal Mula


Catatan Untuk Mereka Yang Lupa
Jeritan malaikat menyelinap memenuhi antero alam ini, tangisan mereka mengundang kegembiraan bagi para pengikut sebelah kiri. Mereka senang dan sangat gembira dengan tawa ria berkumpul membentuk kumpulan pemuja, mereka sudah menang untuk mempermainkan manusia seutuhnya.
Langit sebagai saksi, angin yang menerpa sebagai bukti kemenangan yang diperoleh melalui aliran darah dan nafsu kemerdekaan. Malaikat menangis bersujut memohon ampun kepada sang Khaliq demi manusia-manusia yang lagi dimabuk kebebasan dan kemerdekaan diri didunia ini.
Disana...? banyak yang geleng-geleng kepala seolah mimpi yang menerpa. Padahal ini adalah kenyataan. Ia.. kenyataan yang menimpa Hamba Allah lagi bersenang-senang merayakan kemerdekaan dari garis hukum yang telah lepas dalam hitungan detik. Tersenyum adalah tanda..!. bangga dengan apa yang telah didapati dan merasa sudah benar sampai lupa pada hakikat Almamater itu sendiri.

Disana.. hanya bisa memandang dan mengusap dada, inikah namanya dunia kebebasan..?  inikah yang mereka peroleh dari apa yang telah mereka resapi dan mereka kaji selama 3-6 tahun lamanya. Apakah ini kegagalan dalam pendidikan dan menacapkan duri-duri keinsafan..? tanyalah pada diri sendiri..?
Riuh dan berdebu menyeret langkah-langkah kaki melepaskan belenggu demi mencapai kemerdekaan seirng irama waktu untuk berkumpul saling bercengkrama disaksikan ombak lautan yang tenang demi melepaskan baju-baju kesucian yang selama ini dipikul dan dijaga walaupun kadang agak terpaksa.
Disana mereka gembira dengan celotehan memekakkan gendang telinga para malaikat yang telah siap bersama pena-pena dosa melingkar membentuk jemari bergerak kekanan dan kekiri dalam tempo yang terlalu singkat.
Tadinya alunan nasehat bergemuruh bersama senyum para malaikat, air mata menetes melepaskan kawan, rekan, saudara sambil menyesali dan memaafkan mereka yang telah berbuat salah baik sengaja maupun lupa.
Barisan kaki bak benteng China kokoh menompang diri demi menyaksikan dan melepaskan seretan kaki yang berjalan beriringan lengkap dengan atribut baru yang telah lama di idamkan, serta potongan pita tanda berakirnya kehidupan bersama para syuhada Allah yang msih tertegun dengan kejadian yang sangat menabjubkan.
Tapi itu semua berubah, air mata terlanjur untuk bergenang, kelelahan terlanjur untuk dikerahkan, nasehat yang keluar dengan mulut mulai berbusa hanya menjadi patamorgana.
Makhluk yang tidak nampak dan menyeramkan berubah menjadi gembira dengan petikan tawa seiring langkah mereka menuju ketempat perpisahan para muda belia. Almamater menjadi tenda, kopiah menjadi angin peniup bala, buku agama menjadi pustaka yang tidak lagi terbaca. Mereka  menang dalam sekejab saja.
Inilah goresan wisuda yang telah terlanjut untuk diterka. Wahai para anak bangsa, bukankah dirimu sudah di timpa dengan goresan-goresan suci merasuki jiwamu yang tenang...?
Wahai orang yang mengabdikan diri pada titah Allah... jangan menyesal apalagi keluar kata-kata terserah. Lanjutkan perjuangan Nabiyullah.
Catatan Untuk para santri yang telah berubah.
Banda Aceh. 20 Mai 2012

0 komentar:

Posting Komentar

komen disini