Jumat, 22 Juni 2012

Ibrahim long memilih Islam Sebagai Agama Yang Istimewa

Saya dibesarkan dalam sebuah keluarga kristen dengan aliran yang berbeda-beda. Ibu saya adalah seorang penganut setia Katolik Roma. Ia menerima lamaran ayah saya dengan terlebih dahulu memaksanya berjanji di hadapan pendeta bahwa mereka akan membesarkan anak-anak mereka sebagai penganut Katolik. Ayah saya menerima syarat itu, sekalipun ia penganut setia Mormon, cabang Kristen.
 
Akhirnya kami yang lahir dari mereka berada di tengah-tengah faham Kristen. Paman saya pernah bergurau mengapa saya menjadi muslim.
Menurutnya, hal itu saya lakukan karena tidak dapat memutuskan untuk memilih keyakinan ayah atau ibu saya. Paman saya tidak tahu bahwa saya memeluk Islam setelah melewati pencarian yang lama.
 
Ibu saya adalah seorang yang kuat dalam mengamalkan agamanya. Tidak ada satu hari kami tidak mendengar nyanyian riang doa hariannya, atau ia mengingatkan kami akan Tuhan.
 
Ayah saya tidak pernah menyuarakan keimanannya, walaupun pada hakikatnya ia begitu patuh pada ajarannya. Jika saya atau adik-adik saya terlibat dengan sebarang masalah, kami akan menyelesaikannya sendiri.
 
Saya tidak menyadari sejauh mana amalan mereka memberikan kesan kepada saya sehinggalah saya lulus dari sekolah tinggi. Pada hari-hari terakhir saya di sekolah Tinggi Folsom,Tuhan memberikan ujian terbesar ke atas keluarga saya.
 
Ibu saya, yang sebelum ini mengidap tumor yang kronik telah didiagnosa dengan kanker perut yang langka. Para dokter tidak bisa memberi harapan lagi buatnya. Dengan semangat tinggi, ibu menghadiri sesi kemoterapi walaupun akibat dari rawatan tersebut, rambutnya gugur. Ia juga turut mendapat rawatan-rawatan lain.
 
Ia bertekad untuk melihat anak-anaknya besar. Anggota keluarga memberikan dukungan penuh padanya. Semua anak-anak berada di sisinya. Terutama adik perempuan saya yang terkecil.
 
Ketika itu saya berusia 17 tahun, saya tidak tahu bagaimana saya bisa membantu untuk mengurangi kesakitan ibu. Sekolah tinggi tampaknya menambahkan masalah yang sudah ada, dengan tekanan dan rekan-rekan yang tidak memberi dukungan, saya merasa kecewa dan malu terhadap ketidakmampuan saya untuk mengubah kondisi ibu. Saya sering meninggalkan rumah untuk berpikir sendirian atau saya berpura-pura seolah-olah saya tidak punya masalah sedikitpun.
 
Ketika kasur rumah sakit dipindah ke rumah, saya baru tersadar tidak memiliki waktu untuk bersamanya. Saya harus membuat ibu paham bahwa saya amat menyayanginya. Karena saya bimbang tidak punya kesempatan lain.
 
Suatu petang, ketika saya merasakan bahwa saya punya peluang untuk bersama ibu sendirian, saya berdiri di sisi kasurnya. Ia kelihatan kurus sekali dan terdapat tabung oksigen untuk membantu pernafasannya, tetapi saat itu ia melihat saya. Ibu tersenyum lebar seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
 
Saya berdiri di situ beberapa menit. Walaupun mungkin hanya beberapa detik berlalu, saya merenunginya. Matanya bersinar dengan cinta dan optimisme. Sebuah senyuman yang tidak ada tandingannya. Dalam menghadapi ujian terbesar dalam hidup, ia kelihatan tangguh melawannya. Satu kekuatan yang tidak saya miliki.
 
Saya memberitahu ibu bahwa saya menyayanginya. Senyumannya semakin lebar, seakan merasakan mengapa saya memilih waktu itu untuk melahirkan perasaan saya. Ia menarik dirinya ke depan dan mengatakan bahwa saya tidak perlu bimbang, semuanya akan selesai. Saya dapat merasakan keyakinannya terhadap apa saja yang direncanakan Tuhan untuknya, dan kata-kata tersebut meninggalkan kesan di hati saya.
 
Beberapa pekan kemudian, adik saya mengetuk pintu kamar untuk menyampaikan berita tentang kematian ibu kami.

Ibu saya adalah seorang sahabat setia, saudara penyayang, anggota masyarakat yang masyarakat dan juga seorang ibu yang penuh dedikasi. Pemakamannya dihadiri oleh ratusan anggota keluarga dan sahabat handai taulan. Setiap dari mereka mengatakan tentang kebaikan ibu saya.
 
Sepatah kata yang telah mengubah hidup saya selamanya. Ketika pendeta memberikan pidatonya, ia meminta setiap dari kami memikirkan sifat ibu saya yang paling kami hargai, dan menerapkan sifat tersebut dalam diri kita. "Itu adalah warisannya," kata sang pendeta.
 
Saya langsung saja tahu apa yang paling saya hargai, yaitu kekuatan batin dan jiwanya yang membenarkan dirinya menjadi begitu optimis dan mencintai walaupun terpaksa menempuh ujian dan kesukaran hidup. Saya tahu benar bahwa kekuatan tersebut bersumber dari keimanannya yang kokoh terhadap Tuhan. Saya benar-benar ingin mencari kekuatan yang sama, tetapi ia hanya akan datang dengan pencarian saya terhadap keyakinan yang saya pasti terhadapnya.
 
Saya tidak ingat apakah dalam hidup ini saya pernah tidak mempercayai Tuhan, walaupun banyak kali saya rasa melakukan kesalahan karena mengkritik Tuhan. Ibu saya membesarkan kami dalam ruang Katolik, tetapi saya tidak pernah paham mengapa kita harus memanggil ruh kudus apabila kita diajar bahwa Tuhan Maha Berkuasa dam saya kesulitan untuk menerima manusia sebagai pencipta saya.
 
Bukan tidak ada keimanan dalam hari saya terhadap Tuhan, tetapi saya tidak tahu bagaimana untuk memahami-Nya. Terinspirasi dengan seorang tokoh sejarah pada usia 18 untuk sukses pada usia 23, saya membuat perjanjian untuk mencari jalan yang benar – apa saja hasilnya- pada usia yang sama.
 
Saya mulai membaca Injil. Saya membagi pertanyaan tentang Tuhan dengan teman-teman saya, tetapi mereka tampaknya tidak serius tentang agama. Dengan hati yang terbuka saya berusaha mencari titik terang dalam Injil.
 
Tanpa sebarang kepastian, saya membiarkan Injil bercakap sendirian. Di celah-celah ayat saya menemukan garis panduan etika, sejarah dan informasi geneologikal. Saya percaya dengan para nabi Tuhan, saya menyukai kata-katanya, tetapi mempercayai Nabi Isa sebagai Tuhan adalah konsep yang paling sulit untuk saya terima.
 
Saya ingin sekali mempercayainya, tetapi saya tidak dapat memaksa diri saya untuk menerimanya. Merasa kehilangan, suatu malam saya meminta Tuhan memberikan saya kepercayaan bahwa Nabi Isa adalah Tuhan. Untuk seketika saya merasa bahwa ia adalah benar, tetapi kemudian ia segera sirna. Saya mula mencari keyakinan dalam agama lain.
 
Saya menyelami Hinduisme, Hara Krishna, Era baru, dan Buddhisme. Mereka menawarkan kata-kata dan kisah-kisah indah yang menjelaskan upaya orang-orang bermoral, sayangnya saya tidak dapat menemukan sesuatu yang bisa memberikan saya sedikit kepastian.
 
Meditasi dan fokus ke atas pengawalan diri dalam Buddhisme memberikan sejenis amalan yang lebih jelas dalam kepercayaan lain yang saya pelajari, tetapi perwujudan Tuhan yang saya cari tidak ada dalam ajaran ini.
 
Selepas memikirkan apa yang harus saya lakukan dengan semua agama tersebut, saya serahkan kepada Tuhan karena apa yang saya inginkan telah disimpangkan oleh tangan-tangan manusia atau disalahartikan oleh penganutnya. Saya percaya bahwa kebenaran hanya dapat ditemui dengan memisahkan semua tambahan manusia dengan meneliti dan mengkajinya secara jujur. Masih tidak pasti dengan apa yang patut saya yakini, saya meninggalkannya kepada Tuhan, semoga Dia dapat membantu saya menemui-Nya.
 
Saya bernasib baik saat seorang teman mengundang saya untuk tinggal bersamanya di Santa Barbara, California. Kami benar-benar menghargai ide menjauhkan diri dari teman-teman lama yang mengkritik upaya kami. Kami mencari Tuhan dan diri kami sendiri. Saya baru berusia 21 tahun, dan melihat tawaran ini sebagai peluang untuk saya mengumpulkan waktu saya mencari Tuhan sebelum berusia 23 tahun, lantas memenuhi janji yang saya buat sendiri.
 
Tinggal jauh dari rekan dan keluarga memberi peluang kepada saya untuk menilai diri dan bertemu dengan orang-orang yang mempunyai minat yang sama. Di sini saya bertemu dengan berbagai ragam manusia yang saling bertukar ide; sebagian kelihatan amat indah, manakala sebagian lagi menyebabkan  saya menyoal visi realita mereka. Saya menyukai pembahasan mengenai keyakinan, tetapi saya tidak menemukan apa-apa yang baru yang dapat menawarkan sesuatu yang bisa saya pegang.
 
Saya ingin mengetahui kebenaran yang bisa saya pegang, bukan sekadar percakapan tentang apa itu kebenaran. Walaupun saya bertambah informasi, sayangnya saya masih tidak menemukan pegangan yang saya cari di Santa Barbara.
 
Saya kembali ke rumah saya di Sacramento dan dengan beberapa bulan lagi usia saya akan mencapai 23 tahun, saya mula merasa kehilangan dan depresi. Perjanjian paling penting yang saya buat tampaknya tidak dapat dipenuhi. Merasa kecewa, saya berhenti membaca sebarang buku agama, dan mulai membaca peristiwa-peristiwa kotemporer.
 
Saya begitu berminat untuk mengetahui lebih banyak mengenai konflik Timur Tengah, terutamanya bumi suci. Saya pergi ke toko buku lokal, dan membeli sebuah buku tentang konflik Israel dan Palestina yang kononnya menganut agama yang mengajar manusia kekerasan dan kebencian. Penulis begitu ingin memperlihatkan bahwa agama ini merupakan problema di Timur Tengah, tanpa mengetahui apa-apa tentang agama ini, saya percaya saja dengan apa yang ingin disampaikan oleh sang penulis.
 
Dalam pembahasan, saya akan merujuk kepada penulis, bahwa agama Islam adalah sebuah agama yang tidak punya toleransi. Saya melakukannya sehingga seorang rekan yang baik menyoal saya jika saya sadar bahwa saya hanya berprasangka. Ia benar, sebenarnya saya hanya tahu Islam dari buku yang saya baca.
 
Saya mula bertanya lebih kepada pengurus toko saya, Danyelle yang telah memeluk Islam. Ia memberikan saya sebuah al-Quran, dan suaminya, Jabari menyarankan saya bertemu mereka di rumah mereka untuk berbahas lebih lanjut.
 
Untuk sebulan setengah, saya menemui mereka setiap malam Jumat dan bercakap-cakap dengan mereka tentang agama. Mereka sangat dermawan, menghidangkan makan malam setiap kali saya datang, dan menjawab pertanyaan saya tanpa menyingkirkan apa yang saya percaya.
 
Saya sendiri telah membaca sebagian dari Quran sebelum ini, tetapi kini dengan ada orang untuk menjawab pertanyaan saya, hati saya terbuka, dan saya benar-benar berusaha untuk memahami apa yang tersirat dalamnya.
 
Al-Quran merupakan sebuah kitab yang unggul dari apa yang pernah saya baca selama ini. Jauh dari intoleransi, malah isinya begitu seimbang. Ia sering mengingatkan tentang peraturan bermasyarakat dan kasih sayang yang semuanya masuk akal. Ayat-ayatnya mengungkapkan pengetahuan yang dalam tentang perilaku manusia. Konsep benar yang saya temui dalam buku lain terdapat dalam al-Quran, jikapun ia berbeda, saya temui bahwa al-Quran sebenarnya lebih dapat diterima.
 
Selepas 6 pekan melakukan diskusi dan pembacaan, akhirnya saya yakin bahwa al-Quran adalah wahyu Allah Swt.
 
Pada tanggal 25 Februari, hari Jumat, saya membuat pengakuan bahwa saya akan memeluk Islam. Pada hari Ahadnya, saya dengan penuh kesadaran mengucapkan dua kalimat Syahadah.
 
Saat matahari terbit hari berikutnya, sedang saya memikirkan tentang keimanan baru saya, saya teringat bahwa hari itu adalah hari lahir saya yang ke 23 dan Tuhanlah yang telah membantu saya untuk memenuhi janji yang saya perbuat. Setelah segala pencarian, Tuhan mengungkapkan kepada saya sebuah keimanan yang sebelum ini tidak terlintas dalam benak saya, dan ini merupakan hadiah yang terbesar buat diri saya.
 
Setiap kali saya membaca al-Quran atau mempelajari sesuatu yang baru darinya, semua itu hanya membuat iman saya bertambah. Inilah yang ingin saya cari selama ini, dan inilah yang memberikan saya kekuatan yang selayaknya buat saya hari ini.

0 komentar:

Posting Komentar

komen disini