Kamis, 21 Juni 2012

Pemain Bola Yang Taat

Menjadi minoritas bukanlah sesuatu yang mudah. Apalagi jika itu terkait keyakinan. Dibutuhkan ketahanan mental, keyakinan yang kuat serta kemampuan beradaptasi yang ekstra untuk tetap eksis sebagai minoritas. Itulah kira-kira tantangan yang dihadapi oleh para pemain bola Muslim di kancah persepakbolaan Eropa. Dalam beberapa momentum, misalnya yang paling mencolok saat Ramadhan, mereka dituntut untuk tetap menjadi Muslim sejati sekaligus professional di lapangan. Bayangkan, mereka harus berpuasa sambil bertanding bola.
Namun, eksistensi Muslim di kesebelasan-kesebelasan Eropa kian semakin mencolok. Dalam Piala Eropa 2008 lalu, tercatat begitu banyak pemain Muslim yang berkiprah di lapangan hijau. Bahkan, konon Piala Eropa 2008 lalu mencatat rekor sebagai Piala Eropa dengan pemain Muslim terbanyak, walau tanpa harus memasukkan para pemain Turki yang notabene memang mayoritas Muslim. Sehingga, jika para pemain Muslim yang bertebaran di berbagai negara Eropa itu dikumpulkan, tercatat akan bisa membentuk kesebelasan sendiri beserta cadangannya. Dalam posisi kiper, ada nama Muslim Rami Shaaban (Swedia) dan Eldin Jakupovic (Swiss). Di posisi bek ada Renat Yanbayev (Rusia), Khalid Boulahrouz (Belanda) dan Eric Abidal (Prancis). Adapun di posisi gelandang ada nama Darijo Srna (Kroasia), Franck Ribery (Prancis), Samir Nasri (Prancis), Lassana Diarra (Prancis), Ibrahim Affelay (Belanda), Diniyar Bilyaletdinov (Rusia) dan Valon Behrami (Swiss). Sedangkan di posisi depan ada Robin Van Persie (Belanda), Nicolas Anelka (Prancis) dan Karim Benzema (Prancis).
Para pemain Muslim di kancah Eropa itu bukan hanya hadir sebagai pelengkap di timnya. Namun, mereka bermain sebagai andalan pelatih dan bintang lapangan. Lihat saja Robin Van Persie di Belanda dan di klubnya Arsenal. Atau, dulu lihatlah Zinedine Zidane di Prancis dicatat sebagai pemain yang berhasil membawa Prancis memanangi Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000 dan menjadi pemain dengan nilai transfer termahal di klub saat ditransfer dari Juventus ke Real Madrid.
Selain itu, para pemain Muslim di kancah Eropa juga dikenal sebagai pemain yang memiliki sportifitas yang tinggi dan juga idealisme yang kokoh. Misalnya, Zidane dikenal sebagai pemain yang sangat santun dan spotif hingga ia pernah meraih gelar Pemain Terbaik Dunia. Namun, ketika idealismenya diusik oleh Materazzi pada Final Piala Dunia 2006 dengan melontarkan kata-kata rasis, ia langsung mengambil tindakan tegas dengan menyundul dada Materazzi tanpa peduli pada kartu merah. Atau, lihatlah Frederic Kanoute (pemain Muslim asal Mali yang bermain di Sevilla, Spanyol) yang memilih tetap berpuasa saat bertanding di Bulan Ramadhan serta membeli dan mewakafkan sebuah bangunan masjid di Sevilla, Spanyol, yang oleh pemiliknya hendak dijual pada Desember 2007 karena bangunan yang saat itu disewa dan dijadikan masjid oleh komunitas Muslim Sevilla itu telah habis masa kontraknya. Walau sangat getol membela Sevilla, namun ia tiba-tiba tak mau bermain saat klubnya itu memajang nama situs judi online yang menjadi sponsor utama Sevilla saat itu. Kanoute juga tak peduli mendapat hukuman saat menyampaikan pesan dukungannya terhadap rakyat Palestina yang tertindas di Gaza saat serangan brutral Israel melalui kaos bertulis “Palestina” dalam selebrasinya setelah ia mencetak gol.
Idealisme yang kokoh itu menunjukkan bahwa para pemain Muslim itu tak hanya memeluk Islam secara simbolik dan memahaminya sebagai atribut belaka. Namun, kata Ribery, “Islam adalah sumber kekuatan saya di dalam dan di luar lapangan. Saya mengalami kehidupan yang cukup keras dan saya harus menemukan sesuatu yang membawa saya pada keselamatan. Hingga kemudian saya menemukan Islam.” Begitulah mereka memahami Islam.

Related Posts:

  • Benteng Palestina Mulai Rontok  Islam diporak-porandakan oleh kaum kafir, gejolak timur tengah makin membuat islam terpecah belah. Amerika serikat dan Zionis Yahudi mulai berhasil menjalankan misi pecah belah diantara ummat islam. Kaum Wahabi yang… Read More
  • Zionis Yahudi Membohongi dunia dengan Cerita Holocaust Israil bangsa pembohong, sejak masa Nabi Musa mereka sudah dikenal dengan Bangsa pembohong dan penjajah. kebohongan yang paling besar mengenai Halocaust pembantaian bangsa yahudi oleh Nazi jerman, padahal itu semua adalah… Read More
  • Misteri Tukang Parkir Aceh Geram palak campur emosional, itulah gambaran sekarang di Aceh akibat ulah tukan parkir yang makin meraja lela disetiap pertokoan dan Super Market di Aceh. Pasar Aceh mungkin sudah kita maklumi banyak tukang parkir berkeli… Read More
  • Pemain Bola Yang Taat Menjadi minoritas bukanlah sesuatu yang mudah. Apalagi jika itu terkait keyakinan. Dibutuhkan ketahanan mental, keyakinan yang kuat serta kemampuan beradaptasi yang ekstra untuk tetap eksis sebagai minoritas. Itulah ki… Read More
  • Indonesia Negara 1000 Duplikat Indonesia adalah salah satu negara yang masyarakatnya multi kultural dan negara berpulau. Nagara yang penduduknya 95 persen beragama islam, walaupun yang taat beragama hanya sekian persen. Akan tetapi indonesia termasuk… Read More

0 komentar:

Posting Komentar

komen disini