Kamis, 17 Mei 2012

Jelajah Hutan Ala Santri Pesantren


Jelajah Alam atau hutan memang sudah dikenal masyarakat luas, lebih-lebih mereka yang berkecimpung dalam organisasi pencinta alam. Tapi ini Jelajah Hutan Ala Pesantren yang di ikuti oleh seluruh santri Pesantren Babun Najah Ulee Kareng Banda Aceh.
Memang unik dan penuh serta sarat pengalaman, sebelumbe rangkat terlebih dahulu para panitia mencari rute perjalanan untuk jelajah, biasanya sekitar banda aceh dan aceh besar. Maklum rombongannya anak sekolahan atau santri pesantren. Disini panitia yang mencari rute, biasanya terdiri dari 4 orang atau lebih, tergantung seberapa parah medan yang di tempuh.

Dalam pencarian rute untuk jelajah ( cross cantry) kita harus minta izin terlebih dahulu ke Geucik atau kepala desa setempat, dan sedikit pertanyaan tentang huan yang dituju. Jalurnya harus ada beberapa paktor:
1.       Ada sungai, biasanya sungainya tidak terlalu dalam. Ditakutkan ada sebagian peserta nantinya Fabia atau takut air dan tidak bisa berenang, karena mengantisifasi hal itu maka dipilih sungai yang tidak dalam.
2.       Ada hutan, faktor kedua ini sangat asyik dan penuh tantangan. Diman jalurnya bisa jadi masuk kedalam hutan belantar, atau mengambil jalur yang kurang tantangn. Biasanya kalau ala pesantren jalur dalam hutan atau rute jelajah langsung menempuh hutan. Karena nantinya akan didapati berbagai macam tumbuhan di hutan, sekalian perkenalan dengan tumbuhan-tumbuhan yang bisa untuk di makan dan yang beracun alias tidak bisa di makan.
3.       Ada gunung atau bukit. Ini merupakan tantangan ketahanan fisik dan kekuatan otot kaki.hehehehe..? kalau gunung ada jurangnya, sebaiknya rute dipinggir jurang yang mudah untuk di lalui.
Ketiga faktor ini sangat perlu dalam pencarian rute cros cantri ala pesantren. Para panitia pencari rute membaca peralatan yang cukup. Diantaranya parang, cat, kompas, kertas dan pulpen serta yang lainnya. Kegunaannya untuk membuat peta perjalanan.
Nah... setelah siap semuanya, baru di cari rute. Dan ingat dilarang mematahkan batang kayu dalam hutan. Dalam rute, biasanya ada diberlakukan beberapa Pos, ada pos induk dan ada pos bayangan. Biasanya terdiri dari 5 Pos Induk dan 5 Pos Bayangan. Pos Induk beda lagi, ada yang mengurus masalah PBB, ada Tes mental, ada P3K, ada Pos tanya jawab dan ada juga pos Peristirahatan.
Sedankan Pos Bayangan bertugas untuk mengontrol para peserta supaya todak sesat dan menunjukkan jalan kerute yang benar. Oh iya, setiap Pos Induk ada memberikan beberapa pertanyaan dan Yel..Yel..?
Setelah selesai pencarian rute dan pembuatan peta jalan. Baru mulai jelajah yang di ikuti oleh seluruh santri pesantren modern babun Najah. Disini ada pembentukan regu, setiap regu boleh menamakan regunya dengan nama-nama sesuai keinginan masing-masing sebagai suatu ciri khas kelompok. Satu regu terdiri dari 10-15 orang peserta yang di koordinir oleh Pemru, heheh Ketuanya.
Mereka dilepas pertama sekali di pos pertama, atau juga dinamakan dengan Pos Pelepasan,  sebelum menjelajah disini diberikan kembali aba-aba atau nasehat kepada peserta oleh Pimpinan Pesantren atau yang mewakilinya.
Peserta di lepas tidak bersamaan, akan tetapi ada jeda waktu antara regu pertama dengan regu kedua dan selanjutnya. Oke..  dalam jelajah mereka harus jeli tehadap tanda yang sudah di Cat berupa anak panak di batang pohon atau batu, dan tanda itu boleh juga berupa patangan kayu, makanya dilarang mematahkan kayu, di takutkan kelompok atau regu yang lain sesat nantinya.
Kita lanjut membacanya. Satu Pos induk terdiri dari 3 orang Instruktur atau lebih. Tugas instruktur tergantung kesepakatan diantara mereka juga. Sedangkan mereka yang berada di pos bayangan biasanya terdiri dari 2 orang, dan tidak di anjurkan untuk memberikan pertanyaan apalagi mengerjai para peserta. Dan lebih bagusnya pos bayangan tidak nampak orangnya, tapi waktu para peserta sesat atau salah jalur mereka langsung menegur dan menunjuk jalur yang benar.
Yang terakir ada pos Terakir. Maka pos terakir biasanya ada sungai, selain bisa istirahat, shalat, makan (ISOMA) mereka juga bisa mandi-mandi. Wuih enaknya. Sampai tiba waktu pulang dah kembali ke pesantren.
Waktunya hanya sehari, kenapa...? besoknya libur panjang dan bisa berjumpa kembali dengan orang tua di kampung masing-masing...

0 komentar:

Posting Komentar

komen disini